Banda Aceh – Bank Indonesia Provinsi Aceh mencatat penggunaan uang elektronik melalui Qris di provinsi ujung paling barat Indonesia itu selama 2022 sebanyak 267.273 pengguna atau tumbuh 907 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan ini tidak terlepas dari meningkatnya literasi keuangan masyarakat untuk menggunakan uang elektronik dalam kegiatan sehari-hari,” kata Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Achris Sarwani di Banda Aceh, Rabu.
Ia menyebutkan sepanjang tahun 2022 terdapat 101.285 merchant yang telah mengimplementasikan QRIS sebagai alternatif pembayaran non tunai di Provinsi Aceh.
Angka tersebut tumbuh 45,23 persen dibandingkan tahun 2021. Di mana peningkatan jumlah merchant yang cukup signifikan terjadi pada bulan Juli 2022 yang tumbuh sebesar 4,9 persen (month to month).
Berdasarkan klasifikasi usaha, pangsa merchant QRIS terbesar berasal dari usaha mikro (UMI) dengan jumlah 70.906 merchant (70,01 persen).
Selain jumlah merchant dan pengguna QRIS, perkembangan nominal transaksi QRIS juga menunjukkan tren yang meningkat setiap triwulannya, dengan rata-rata nilai transaksi per bulan selama tahun 2022 yaitu sebesar Rp41,88 miliar dengan nominal transaksi QRIS tertinggi sejak 2021 hingga akhir tahun 2022 terjadi pada bulan April 2022 dengan nilai sebesar Rp64,37 miliar.
Ia mengatakan untuk mendukung pencapaian target 15 juta pengguna baru QRIS secara nasional di tahun 2022, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh telah melakukan berbagai upaya dengan berkolaborasi bersama Penyedia Jasa Pembayaran (PJP), Pemda, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendorong user experience QRIS melalui berbagai program menarik, seperti cashback & discount transaksi menggunakan QRIS.
Sementara untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai berbagai instrumen pembayaran digital, telah diselenggarakan berbagai kegiatan strategis seperti Meugah Festival Aceh, dan Pekan QRIS Nasional.
Selain itu, program onboarding QRIS juga dilakukan di berbagai komunitas, yang diharapkan dapat membentuk ekosistem digital yang kondusif, sehingga turut mendorong masyarakat semakin banyak bertransaksi secara non tunai. (Ant)














